Tugas Matrikulasi IIP minggu kedua ini benar-benar menantang. Sungguh saya kagum dan takjub dengan founder IIP, Ibu Septi Peni Wulandari yang telah merancang kurikulum IIP ini dengan begitu sistematis dan “membangun.” Kenapa “membangun”? Iya dua NHW awal yang sudah diberikan ini seakan sebuah rangkaian road map untuk menjadi seorang Ibu yang tidak biasa. Tugas demi tugas seakan sebuah langkah untuk menemukan jalan menuju sebuah tujuan utama, yaitu menjadi Ibu Profesional!
27 Mei 2017
IIP Batch 4 Jogja: Nice Homework Minggu 2
Bismillah..
Tugas Matrikulasi IIP minggu kedua ini benar-benar menantang. Sungguh saya kagum dan takjub dengan founder IIP, Ibu Septi Peni Wulandari yang telah merancang kurikulum IIP ini dengan begitu sistematis dan “membangun.” Kenapa “membangun”? Iya dua NHW awal yang sudah diberikan ini seakan sebuah rangkaian road map untuk menjadi seorang Ibu yang tidak biasa. Tugas demi tugas seakan sebuah langkah untuk menemukan jalan menuju sebuah tujuan utama, yaitu menjadi Ibu Profesional!
Tugas Matrikulasi IIP minggu kedua ini benar-benar menantang. Sungguh saya kagum dan takjub dengan founder IIP, Ibu Septi Peni Wulandari yang telah merancang kurikulum IIP ini dengan begitu sistematis dan “membangun.” Kenapa “membangun”? Iya dua NHW awal yang sudah diberikan ini seakan sebuah rangkaian road map untuk menjadi seorang Ibu yang tidak biasa. Tugas demi tugas seakan sebuah langkah untuk menemukan jalan menuju sebuah tujuan utama, yaitu menjadi Ibu Profesional!
20 Mei 2017
IIP Batch 4 Jogja: Nice Homework Minggu 1
Alhamdulillahi robbil ‘alamin..
Sudah sejak tahun lalu mencari-cari komunitas untuk
mengembangkan diri dan tahun ini senang rasanya akhirnya bisa bergabung di
Institut Ibu Profesional (IIP) Batch 4 Jogja. Minggu pertama bergabung sudah
bisa merasakan kalau ibu-ibu (dan calon ibu) yang tergabung dalam komunitas ini
memang ibu-ibu LUAR BIASA. Bagaimana tidak? Meskipun sibuk di ranah domestik
dan publik tetapi masih menyempatkan diri untuk belajar mengembangkan diri, itu
sungguh luar biasa!
19 Desember 2015
Mimpi menjadi Ibu Homeschooler
Suatu kali saya
mendengar seorang guru TK mengatakan kalau dia mengajar kelas yang berisi
anak-anak yang (maaf) bodoh. Waktu itu saya merasa sangat tidak nyaman
mendengar apa yang dia katakan. Bagaimana bisa seorang pengajar mengatakan anak
didiknya –anak TK- bodoh. Sebagai orang yang pernah sedikit belajar ilmu
kependidikan saya sungguh tidak akan sampai hati mengatakan seorang anak bodoh,
mereka hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu daripada
anak lain seusianya yang dikatakan oleh sang guru anak pintar.
Label:
cerita saya
Langganan:
Postingan (Atom)
